De Gadjah: Ketahanan Pangan Harus Dimulai dari Petani, Diperkuat Koperasi dan Bermuara pada Gizi Rakyat

- Editorial Team

Minggu, 20 September 2026 - 08:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua HKTI Bali, De Gadjah menegaskan ketahanan pangan harus dimulai dari petani, diperkuat koperasi dan bermuara pada gizi rakyat. ®okedailybali [Foto: Istimewa]

Ketua HKTI Bali, De Gadjah menegaskan ketahanan pangan harus dimulai dari petani, diperkuat koperasi dan bermuara pada gizi rakyat. ®okedailybali [Foto: Istimewa]

KARANGASEM – Ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak beras yang diproduksi. Ketahanan pangan adalah tentang bagaimana pangan diproduksi oleh petani, peternak dan nelayan, tersedia ketika dibutuhkan, terdistribusi dengan baik, terjangkau oleh masyarakat, bergizi, aman hingga mampu meningkatkan kesejahteraan para produsennya.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali periode 2026–2031, Made Muliawan Arya alias De Gadjah, saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) IV dan Dirosah Wustho II PW GP Ansor Provinsi Bali di MIN 1 Karangasem, Sabtu (19/9/2026).

Menurut De Gadjah, Indonesia saat ini berada pada momentum penting dalam membangun kemandirian pangan. Berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan hasil, terutama dalam peningkatan produksi beras, penguatan cadangan pangan, perbaikan tata kelola pupuk serta program pemenuhan gizi masyarakat.

Data pemerintah menunjukkan produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024. Cadangan beras pemerintah juga mencapai level yang sangat tinggi, dengan stok Bulog sempat mencapai sekitar 4,2 juta ton pada Juni 2025. Pemerintah menyebut capaian tersebut sebagai bagian dari keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras.

“Ini bukan sekadar angka. Kalau produksi meningkat dan cadangan pangan kuat, masyarakat memiliki perlindungan yang lebih baik ketika terjadi gejolak harga atau gangguan pasokan. Tetapi pekerjaan kita belum selesai. Ketahanan pangan harus benar-benar terasa sampai ke masyarakat dan petani,” ujar De Gadjah.

Baca Juga:  Zulfikar Wijaya Hadiri Pembentukan Pengurus Tani Indonesia Bali, Soroti Isu Ketahanan Pangan

Dari Swasembada Menuju Ekosistem Pangan

De Gadjah mengatakan, keberhasilan meningkatkan produksi pangan harus dilanjutkan dengan membangun mata rantai pangan yang kuat dari hulu hingga hilir.

Petani harus mendapatkan pupuk dan sarana produksi yang memadai. Hasil panen harus memiliki kepastian pasar. Distribusi harus efisien agar tidak terjadi disparitas harga yang terlalu tinggi. Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen harus mendapatkan pangan yang cukup, bergizi, aman dan terjangkau.

“Produksi harus kuat, tetapi distribusi juga harus kuat. Jangan sampai petani sudah bekerja keras dan produksinya bagus, tetapi ketika panen justru kesulitan menjual. Akhirnya petani tidak sejahtera dan konsumen tetap membeli dengan harga mahal,” katanya.

Karena itu, De Gadjah menilai program-program pemerintah seperti swasembada pangan, penguatan pupuk, cadangan pangan, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengembangan koperasi harus dilihat sebagai bagian dari satu ekosistem, bukan sebagai program yang berdiri sendiri.

Baca Juga:  Gus Yoga Dorong Perluasan Relaksasi BPHTB bagi Pembeli Rumah Pertama Generasi Muda di Denpasar

Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, tidak hanya berbicara tentang makanan yang diterima anak-anak. Program tersebut juga dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi pangan karena kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar membuka ruang bagi petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM dan koperasi lokal untuk terlibat.

“Kalau kita bicara MBG, jangan hanya melihat piring makanannya. Lihat juga siapa yang memproduksi bahan pangannya, siapa yang memasok, siapa yang mendistribusikan dan siapa yang mendapatkan manfaat ekonominya. Kalau mata rantainya dibangun dengan baik, MBG bisa menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Facebook Comments Box

Penulis : Alfian Syaifullah

Editor : Andrean Masrofie

Sumber Berita: Okedaily Bali

Follow WhatsApp Channel bali.okedaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

RELATED NEWS

Yayasan De Gadjah-Folago TikTok Latih Gen Z dan UMKM Bali, Dari Konten Jadi Cuan
Bangkit di Ujung Barat Bali! PMII Jembrana Resmi Deklarasi, Cetak Kader Kritis dan Berintegritas
KH. Yayan Bunyamin: Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Program tapi Teladan Rasulullah
Ketua GP Ansor Bali: Kaderisasi adalah Nyawa Organisasi
Program Prabowo Berdampak Langsung pada Rakyat, Gus Yoga: Ini Bukti Negara Hadir
Kemacetan Denpasar Makin Parah, Gede Tommy: Kembalikan Fungsi Jalan dan Trotoar
Dibangun Swadaya Warga sejak 2018, De Gadjah Dorong Penyempurnaan Jembatan Situ Banda
Prabowo Ground Breaking PLTS 100 GWp di Bali, Tommy: Kebijakan Strategis Berdampak Positif bagi Lingkungan

RELATED NEWS

Minggu, 20 September 2026 - 08:43 WITA

De Gadjah: Ketahanan Pangan Harus Dimulai dari Petani, Diperkuat Koperasi dan Bermuara pada Gizi Rakyat

Minggu, 20 September 2026 - 07:46 WITA

Yayasan De Gadjah-Folago TikTok Latih Gen Z dan UMKM Bali, Dari Konten Jadi Cuan

Sabtu, 19 September 2026 - 19:32 WITA

Bangkit di Ujung Barat Bali! PMII Jembrana Resmi Deklarasi, Cetak Kader Kritis dan Berintegritas

Sabtu, 19 September 2026 - 19:11 WITA

KH. Yayan Bunyamin: Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Program tapi Teladan Rasulullah

Senin, 14 September 2026 - 19:47 WITA

Program Prabowo Berdampak Langsung pada Rakyat, Gus Yoga: Ini Bukti Negara Hadir

LATEST NEWS